Abstract
Gastroschisis is a defect in the closure of the abdominal wall resulting in evisceration of the contents of the abdominal cavity.1 In gastroschisis, the viscera of the abdominal wall open and allow the intestine, stomach and other abdominal organs to come out through the defect.2 The incidence of gastroschisis in Indonesia is not known with certainty, but Indonesia has a high risk of developing gastroschisis because from several studies there is a risk of causes of gastroschisis such as pregnancy at a very young age, lack of nutritional intake during pregnancy, no pregnancy surgery, and low socio economic class.5,6 The main management of gastroschisis is surgery. The principle of giving gastroschisis is to return the organ that has come out into the stomach and close the abdominal wall defect.8 A baby referred to an external hospital, aged 8 hours, was born spontaneously with a body weight of 2400 grams, body length 23 cm, with an APGAR score of 7/8. Physical examination at admission, active baby, temperature 35.8ºC, heart rate 132 x/minute, respiratory rate 50 x/minute, visible intestine dislodged and umbilical cord on the lateral abdominal wall, GDS 115 mg/dl. Ballard score 27 (gestational age 34-36 weeks), moaning (-), vesicular breathing (+/+). The patient was diagnosed with NKB-SMK, LBW, gastrocysis. After stabilization in the NICU, the defect was closed at 3 days old, with the help of a ventilator. After 40 days of treatment, the baby came home in good condition, active, crying loudly, weighing 2600 grams.Abstrak
Gastroskisis adalah defek dalam penutupan dinding abdomen sehingga terjadi eviserasi isi cavum abdomen.1 Pada gastroskisis, visera dinding abdomen terbuka dan menyebabkan usus, lambung dan organ perut lainnya keluar melalui defek tersebut.2 Insidensi gastroskisis di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun Indonesia memiliki resiko tinggi untuk terjadinya gastroskisis karena dari beberapa penelitian terdapat resiko penyebab gastroskisis seperti kehamilan pada usia sangat muda, kekurangan asupan gizi saat kehamilan, tidak adanya pemeriksaan kehamilan, dan kelas sosial ekonomi yang rendah.5,6 Tatalaksana utama gastroskisis adalah pembedahan. Prinsip pembedahan gastroskisis yaitu mengembalikan organ yang keluar kedalam abdomen dan menutup defek dinding abdomen.8 Bayi laki-laki rujukan RS luar usia 8 jam, lahir secara spontan dengan berat badan 2400 gram, panjang badan 23 cm, dengan APGAR score7/8. Pemeriksaan fisik saat masuk bayi aktif, suhu 35,8ºC, denyut jantung 132 x/menit, frekuensi napas 50 x/menit, tampak usus terburai dan tali pusat berada di lateral dinding abdomen, GDS 115 mg/dl. Ballard score 27 (usia gestasi 34-36minggu), merintih (-), pernafasan vesikuler (+/+). Pasien didiagnosis dengan NKB- SMK, BBLR, gastrokisis. Setelah stabilisasi di NICU, dilakukan penutupan defek usia 3 hari, dengan bantuan ventilator. Setelah perawatan selama 40 hari, bayi pulang dalam keadaan baik, aktif, tangis kuat, dengan berat 2600 gram. Keyword : Gastrochisis, BBLRPENDAHULUAN
Gastroskisis adalah defek dalam penutupan dinding abdomen sehingga terjadi eviserasi isi cavum abdomen.1 pada gastroskisis, visera dinding abdomen terbuka dan menyebabkan usus, lambung dan organ perut lainnya keluar melalui defek tersebut.2 penyebab terjadinya gastroskisis tidak diketahui secara pasti. Gastroskisis disebabkan oleh penyebab kegagalan pembentukan dan perkembangan dinding tubuh bagian ventral selama embriogenesis, yang mengakibatkan herniasi usus.3 Insiden gastroskisis meningkat di seluruh dunia berkisar antara 4−5 per 10.000 kelahiran hidup. Terdapat insiden yang lebih tinggi pada orang Hispanik, kehamilan tunggal, dan wanita yang lebih muda kurang dari 20 tahun.3,4Insidensi gastroskisis di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun Indonesia memiliki resiko tinggi untuk terjadinya gastroskisis karena dari beberapa penelitian terdapat resiko penyebab gastroskisis seperti kehamilan pada usia sangat muda, kekurangan asupan gizi saat kehamilan, tidak adanya pemeriksaan kehamilan, paritas tinggi, dan kelas sosial ekonomi yang rendah.5,6 Penelitian yang dilakukan Nukana pada tahun 2012 mengemukakan kejadian Gastroskisis di RSUP Sanglah pada tahun 2010−2012 mencapai 37 kejadian.7 Tatalaksana utama gastroskisis adalah pembedahan. Prinsip pembedahan gastroskisis yaitu mengembalikan organ yang keluar kedalam abdomen dan menutup defek dinding abdomen.8 Masalah yang dapat terjadi pada pasien saat tindakan pembedahan dilakukan berupa hilangnya suhu dan cairan karena pemaparan isi abdomen menghasilkan penguapan panas dan terjadi kekurangan jumlah air, infeksi, serta gaster yang dapat berdistensi. Waktu pembedahan yang tepat dilakukannya tindakan pembedahan masih kontroversial, tetapi studi menyebutkan bahwa semakin cepat dilakukan tindakan penutupan defek abdomen, semakin kecil pasien mengalami infeksi.5,9,10ILUSTRASI KASUS
Nama / No RM : By. Ny. LP
Umur : 0 hari
Ayah / Ibu : Tn. R/ Ny. LP
Jenis kelamin : Laki-laki
BBL : 2400 gram
Alamat : Dumai
Tanggal lahir (RSUD Dumai) : 20 April 2023 14.30
Tanggal masuk (NICU RSUD AA) : 20 April 2023 22.20
Bayi laki-laki dilahirkan di RSUD Dumai dengan persalinan spontan. Diagnosis ibu G1P0A0H0 Gravid 35-36 minggu. Bayi sudah mendapatkan dexametasone 4x. Bayi lahir kurang bulan, menangis lemah, dan tonus lemah. Bayi merupakan rujukan dari RSUD Dumai karena pada saat lahir pasien dalam keadaan usus yang diluar permukaan dinding perut. Pada 20 April 2023 pasien datang ke klinik bidan terdekat dengan keluhan keluar lendir bercampur darah, Gerakan janin dirasakan aktif. Setelah itu, pasien dibawa ke RSUD Dumai lalu dilakukan peralinan normal. Kemudian bayi lahir pukul 14.30 di RSUD Dumai dalam keadaan usus berada diluar abdomen. Mengetahui hal tersebut, bayi segera dirujuk ke RSUD Arifin Achmad untuk tindakan lebih lanjut. Pasien tiba pukul 22.20 malam di IGD RSUD Arifin Achmad, setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan bayi merintih, nilai APGAR 7/8, Down Score 1, SpO2 88% dengan NK1/2LPM, GDS 115 mg/dL. Pasien masuk ke NICU RSUD Arifin Achmad dalam keadaan tonus melemah, menangis lemah, tidak sesak nafas, sianosis berkurang saat diberikan oksigen, tidak retraksi, tidak merintih, HR 132 dpm, RR 50 npm, SpO2 92% (room air), suhu 35,8 C, dilakukan injeksi Vit K pada paha kiri anterolateral, dan pemberian salap mata.Riwayat Antenatal Care
Ibu pasien kontrol dengan dokter kandungan sebanyak 2 kali yaitu pada trimester pertama dan trimester ketiga.Riwayat penyakit ibu
Riwayat hipertensi selama kehamilan, keputihan, DM, jantung, dan penyakit menular seksual disangkal.Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada riwayat hipertensi, DM, jantung, dan cacat bawaan. Ayah pasien berusia 36 tahun dan ibu berusia 35 tahun.Pemeriksaan Fisik saat di Perina RSUD Arifin Achmad
Kulit: Kemerahan, suhu 35,8 SSP: Kejang lemah, Tonus (-) Kepala: Sutura melebar, UUB terbuka rata, sekret mata (-), palatum normal, sianosis sentral (-) Sistem Respiratorius: RR: 50 npm, merintih (-), sesak (-), gerakan dada simetris (+), pernapasan cuping hidung (-), retraksi (-), sianosis (-), suara nafas vesikuler. Sistem Kardiovaskular: HR 132 dpm, S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-) Sistem Gastrointestinal: tampak usus terburai dari rongga abdomen terdiri dari usus halus, selaput pembungkus usus (-) Sistem Genitalia: jenis kelamin laki-laki, anus paten (+) Eksremitas: Akral hangat, CRT < 3 detik, polidaktili (-)Diagnosa Kerja
- NKB-SMK, 35-36 minggu - BBLR 2400 - GastroskisisTatalaksana
- Rawat di NICU dengan inkubator - Jaga Airway - Ivdf D10% + Ca gluconas 10 cc --> 6cc/jam - Cek DPL, CRP, elektrolit, PT, APTT - Screening CCHD setelah 24 jam kelahiran - Screening OAE - Baby Gram Setelah stabilisasi di NICU, dilakukan penutupan defek usia 3 hari, dengan bantuan ventilator. Setelah perawatan selama 40 hari, bayi pulang dalam keadaan baik, aktif, tangis kuat, dengan berat 2600 gram.PEMBAHASAN
Bayi ini rujukan RS luar ke RSUD Arifin Achmad usia 8 jam dengan, setelah melakukan konsultasi melalui media online ke tempat rujukan. Transportasi bayi dengan gastrokisis penting sekali diperhatikan, terutama jika pasien mengalami kesulitan bernapas. Hal ini untuk mencegah bertambah dilatasinya usus yang berada diluar, sehingga akan mengganggu proses penutupan defek. Usus yang terburai ditutupi dengan plastik untuk mencegah dehidrasi. Usahakan tidak tertekuk untuk mencegah strangulasi pembuluh darah, dan tentu saja, tindakan aseptik harus dilakukan untuk mencegah infeksi. Rujukan yang cepat dalam 24 jam pertama, sangat menentukan keberhasilan tindakan operasi seperti pada pasien ini. Selama stabilisasi di NICU RSUD, Pasien diberikan NK O2 1 lpm, TPN, dan antibiotik lini pertama. Sampai dilakukan operasi nafas tetap stabil. Pemantauan airway dan pernafasan menjelang penutupan defek juga penting. Bayi gastroskisis yang mengalami distress nafas sedang sd berat, hindari VTP, dan pemberian oksigen aliran tinggi, jika perlu lakukan intubasi dengan ETT. Pada tanggal 22 April 2023, dilakukan tindakan oleh spesialis bedah anak yaitu penutupan defek. Setelah operasi, dilanjutkan terapi TPN, sebagaimana mestinya.
Pasien pulang pada tanggal 29 Mei 2023 dengan kondisi gastrokisis post- tutup defect, abdomen supel, bb 2600 gram, dan BAB sudah spontan.
DAFTAR PUSTAKA
- Holcomb GW, Murphy JP, Ostlie DJ, Peter SD, editor. Ashcraft’s pediatric sugery. Edisi ke-6. Philadelphia: Elsevier Inc; 2014.
- Calderon RI, Montufar OG, Torres JS, Ceron LF. Gastroskisis. Case report and management in primary care services. Reportes de Caso. 2018;4(1):10-8.
- Rentea RM, Gupta V. Gastroschisis. Statpearls. 2022
- Sudrajat I, Satoto H. Analisis kasus Gastroskisis. dalam makalah: Bagian/ SMF Anestesiologi FK Undip/RSUP dr.Kariadi Semarang. 2011.
- Ibarra CR, Gutiérrez M, Saavedra JS, Zúñiga LF. Gastroschisis. Case report and management in primary care services. Case Reports. 2018;4(1):10–8.
- Sudrajat I, Satoto H. Analisis kasus Gastroskisis. dalam makalah: Bagian/ SMF Anestesiologi FK Undip/RSUP dr.Kariadi Semarang. 2011.
- Nukana RP, Darmajaya IM. Proporsi penggunaan teknik bedah dan mortalitas penyakit Gastroskisis di RSUP Sanglah pada tahun 2010-2012. dalam makalah: Bagian/SMF Bedah FK Unud/RSUP Sanglah Denpasar. 2012.
- Yilmaz J, Inanc I, Inan M. A case report: gastroscisis. TMSJ. 2016:22-25.
- Thewidya A, Kurniyanta P, Wiryana M. Manajemen termoregulasi untuk mencegah kejadian hipotermia pada pasien neonatus yang menjalani operasi gastroschisis. Medicina. 2018;49(2):155– 60.
- Luo D, Wu L, Wu H, Huang W, Huang H. Anesthetic management of a neonate receiving prenatal repair of gastroschisis. Int J Clin Exp Med. 2015;8(5):8234–7.
- Klein MD. Congenital defects of the abdominal wall. Pediatric Surgery.7th edition. CoranAG, Adzick NS,et al. Philadelphia. ElseiverSaunders,2012:973-84.
- Cassandra Kelleher, Jacob C. Langer. Congenital abdominal wall defects. J. Patrick Murphy George W. Holcomb. Ashcraft's Pedatric Surgery 5th edition. Philadelphia: Saunders Elselvier, 2010:625- 36.
- Kassa AM, Lilja HE. Predictors of postnatal outcome in neonatus with gastroschisis. Journal of Pediatr Surg. 46; 2011:2108-1.
