BAYI LAHIR DARI IBU COVID

 

A. Pelayanan Bayi Baru Lahir secara Umum 

 

Penularan COVID-19 secara vertikal melalui plasenta belum terbukti sampai saat ini. 

Oleh karena itu, prinsip pertolongan bayi baru lahir diutamakan untuk mencegah penularan virus SARS-CoV-2 melalui droplet atau udara (aerosol generated). 

 

Penanganan bayi baru lahir ditentukan oleh status kasus ibunya. Bila dari hasil skrining menunjukkan ibu termasuk suspek, probable, atau terkonfirmasi COVID-19, maka persalinan dan penanganan terhadap bayi baru lahir dilakukan di Rumah Sakit. 

 

Bayi baru lahir dari ibu yang BUKAN suspek, probable, atau terkonfirmasi COVID-19 tetap mendapatkan pelayanan neonatal esensial saat lahir (0 – 6 jam), yaitu pemotongan  perawatan tali pusat, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), injeksi vitamin K1, pemberian salep/tetes mata antibiotik, dan imunisasi Hepatitis B. 

 

Kunjungan neonatal dilakukan bersamaan dengan kunjungan nifas 

  ASI eksklusif. 

  Perawatan tali pusat, menjaga badan bayi tetap hangat, dan cara memandikan bayi.

  Khusus untuk bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) : apabila ditemukan tanda bahaya atau permasalahan, bayi harus segera dibawa ke Rumah Sakit. 

Pelayanan Skrining Hipotiroid Kongenital tetap dilakukan.

 

B. Pelayanan Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit 

 

Pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan adalah : 

 

1. Bayi yang lahir dari ibu suspek, probable, dan terkonfirmasi COVID-19 termasuk dalam kriteria Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir di Era Adaptasi Kebiasaan Baru penentuan status terinfeksi virus SARS-CoV-2 dan kondisi bayi baru lahir harus segera dilakukan.

a. Pembuktian virus SARS-CoV-2 dengan swab nasofaring/orofaring segera dilakukan idealnya dua kali dengan interval waktu minimal 24 jam.

b. Hasil satu kali positif menunjukkan bahwa bayi baru lahir terinfeksi virus SARS-CoV-2. 

 

2. Prosedur Klinis pada Bayi Baru Lahir dari Ibu dengan Status Suspek, Probable, dan Terkonfirmasi COVID-19. 

a. Bayi baru lahir dari ibu suspek, probable, dan terkonfirmasi COVID-19 dianggap sebagai bayi COVID-19 sampai hasil pemeriksaan RT-PCR negatif. Tindakan yang dilakukan pada bayi baru lahir tersebut disesuaikan dengan periode continuum of care pada neonatus. 

b. Tindakan resusitasi, stabilisasi dan transportasi (aerosol generated).



c. Prosedur klinis pada bayi baru lahir tanpa gejala :  

 

Periode 30 detik – 90 menit pasca lahir pada bayi baru lahir tanpa gejala: 

 

 Penundaan penjepitan tali pusat (Delayed Cord Clamping) tidak dilakukan, sebagai upaya pencegahan penularan baik secara droplet maupun aerosol (udara) serta untuk mempercepat pemisahan ibu dan bayi baru lahir ke ruang/area khusus untuk prosedur stabilisasi selanjutnya. 

 

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) ◦ Tenaga kesehatan harus melakukan konseling terlebih dahulu mengenai bahaya dan risiko penularan COVID-19 dari ibu ke bayi, manfaat IMD, serta manfaat menyusui (dilakukan pada saat antenatal atau menjelang persalinan). 

 

 IMD dilakukan atas keputusan bersama orang tua.Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir di Era Adaptasi Kebiasaan Baru | 62 ◦ IMD dapat dilakukan apabila status ibu adalah kontak erat/suspek, dan dapat dipertimbangkan pada ibu dengan status probable/ konfirmasi tanpa gejala/gejala ringan dan klinis ibu maupun bayi baru lahir dinyatakan stabil. ◦ Apabila pilihan tetap melakukan inisiasi menyusu dini, wajib dituliskan dalam informed consent, dan tenaga kesehatan wajib memfasilitasi dengan prosedur semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya penularan droplet. 

Ibu harus melakukan protokol/ prosedur untuk pencegahan penularan COVID-19 dengan menggunakan masker bedah, mencuci tangan, dan membersihkan payudara.  

 

Periode 90 menit – 6 jam pasca lahir (golden minutes – hours / periode transisi intra ke ekstra uteri) 

 

Dilakukan pemeriksaan swab nasofaring/orofaring untuk pembuktian virus SARS-CoV-2.

Perawatan neonatal esensial : 

◦ Pemeriksaan fisik 

◦ Identifikasi tanda bahaya 

◦ Antropometri 

◦ Injeksi Vitamin K1 

◦ Pemberian salep / tetes mata antibiotik 

◦ Imunisasi Hepatitis B0 

 

Bayi baru lahir dapat segera dimandikan setelah keadaan stabil, tidak menunggu setelah 24 jam. 

Apabila bayi berhasil beradaptasi pada kehidupan ekstra uteri, neonatus dinyatakan sehat dan dapat dilakukan rawat gabung. 

 

Periode 6 – 48 jam pasca lahir (golden days) di Rumah Sakit atau Kunjungan Neonatal 1 :

 

Dapat dilakukan Rawat Gabung

 Pemberian ASI (akan dijelaskan pada bagian manajemen laktasi ) 

Observasi fungsi defekasi, diuresis, hiperbilirubinemia, dan timbulnya tanda bahaya kegawatan saluran cerna, (perdarahan, sumbatan usus atas dan tengah), 

nfeksi, dan kejang. 

Pengambilan spesimen darah untuk pemeriksaan skrining hipotiroid kongenital sesuai Pedoman SHK. ◦ 

Prosedur pemulangan bayi 

 

Periode 3 – 7 hari pasca lahir (golden days) atau Kunjungan Neonatal 2 

 

Bayi baru lahir yang sudah dipulangkan dari Rumah Sakit, pemantauan tetap dilakukan oleh Rumah Sakit melalui media komunikasi, dan berkoordinasi Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan  dengan Puskesmas wilayahnya untuk ikut melakukan pemantauan. 

 

Periode 8 – 28 hari pasca lahir (golden weeks) atau Kunjungan Neonatal 3 : 

 

Bayi baru lahir yang sudah dipulangkan dari Rumah Sakit, pemantauan tetap dilakukan oleh Rumah Sakit melalui media komunikasi, dan berkoordinasi dengan Puskesmas wilayahnya untuk ikut melakukan pemantauan. 

 

Prosedur klinis pada bayi baru lahir BERGEJALA  dirawat di ruang rawat khusus isolasi COVID-19 sampai hasil pembuktian RT-PCR negatif minimal satu kali  

 

Ruang rawat isolasi khusus diperuntukan untuk pencegahan penularan COVID-19 melalui udara (aerosol generated). 


















 



 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *